Tren Bencana Solo Raya Melonjak! Forum BPBD Solo Raya Langsung Kumpulkan Senkom, MDMC, hingga Tagana, Ada Apa?


SURAKARTA — Tren kejadian bencana alam yang terus melonjak akibat dampak perubahan iklim, pertumbuhan penduduk, dan perubahan tata ruang menuntut kesiapsiagaan yang lebih mandiri dari seluruh lapisan masyarakat. Merespons tantangan tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Tengah mengajak seluruh relawan kemanusiaan di wilayah Solo Raya selaku mitra strategis untuk memperkuat kolaborasi, tidak sekadar menjadi pelaksana teknis melainkan sebagai penggerak inovasi di tingkat komunitas masyarakat.

Hal tersebut ditegaskan oleh Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) BPBD Provinsi Jawa Tengah dalam Forum Koordinasi Pembinaan dan Pengawasan Penanggulangan Bencana yang digelar di Ruang Pacific 3, Megaland Hotel Solo, Surakarta, pada Rabu (17/6/2026).

Acara strategis yang diinisiasi sebagai wadah pembinaan, pengawasan, dan penguatan sinergitas ini dihadiri langsung oleh seluruh Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD se-Solo Raya. Forum ini juga menjadi ruang konsolidasi bagi berbagai organisasi relawan lintas sektor, di antaranya Senkom Mitra Polri, MDMC, LPBI NU, SAR MTA, Baznas Tanggap Bencana, Tagana (Taruna Siaga Bencana), serta perwakilan Desa Tangguh Bencana (Destana) dan Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) se-Solo Raya. Turut hadir memperkuat barisan relawan, delegasi dari Kabupaten Wonogiri, Ketua Bidang PB SAR Senkom Mitra Polri Kabupaten Wonogiri (mewakili Ketua Senkom Mitra Polri Kabupaten Wonogiri), bersama perwakilan FPRB Kabupaten Wonogiri, dan perwakilan Destana Kabupaten Wonogiri.



Dalam arahannya, Kalakhar BPBD Jateng menekankan bahwa target utama dari sistem penanggulangan bencana modern adalah membangun ketangguhan masyarakat agar mampu mempertahankan diri secara mandiri saat situasi darurat, minimal di tingkat keluarga dan komunitas setempat.

Sebagai pembina kepeloporan relawan, BPBD Jateng mendorong organisasi relawan Solo Raya untuk aktif mendampingi serta memfasilitasi warga di setiap Destana agar mampu melahirkan teknologi tepat guna. Salah satu inovasi yang disoroti adalah pemanfaatan teknologi kondensasi (pengembunan) udaraatau Atmospheric Water Generator (AWG) untuk menghasilkan air bersih langsung dari uap udara di sekitarnya.

"Jawa Tengah secara geografis diapit oleh Laut Jawa dan Samudra Hindia, sehingga memiliki potensi kelembapan udara yang tinggi. Melalui teknologi kondensasi ini, uap udara diekstraksi dan didinginkan hingga mencapai titik embun untuk diubah menjadi air bersih siap konsumsi. Jika alat ini bisa diterapkan di tiap keluarga, maka masalah klasik krisis air bersih dan kekeringan saat musim kemarau akan terjawab secara mandiri," jelas Kalakhar BPBD Jateng.

Di akhir arahannya, pihak BPBD Provinsi Jawa Tengah memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas dedikasi, kolaborasi, dan sinergitas yang selama ini ditunjukkan oleh seluruh organisasi relawan di wilayah Solo Raya. Soliditas, kekompakan, dan kesetaraan hubungan kemitraan antara BPBD dengan organisasi relawan dinilai menjadi pilar utama keberhasilan penanganan darurat kemanusiaan di lapangan.

Melalui forum ini, fungsi pembinaan dari BPBD serta aksi nyata dari berbagai elemen relawan sebagai mitra sejajar diharapkan mampu melahirkan ekosistem masyarakat Solo Raya yang jauh lebih tangguh, adaptif, dan mandiri dalam menghadapi ancaman bencana di masa depan.(wsh)

0/Post a Comment/Comments

Ads2